Archive for the ‘Artikel Info’ Category

Edan… Harga Lahan Pondok Indah Bertengger di Rp 80 Juta per Meter!

June 11, 2014  |   Artikel Info   |     |   Comments Off

Edan… Harga Lahan Pondok Indah Bertengger di Rp 80 Juta per Meter!

Penulis : Hilda B Alexander (www.kompas.com)| Rabu, 11 Juni 2014 | 19:06 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Tak dimungkiri, Pondok Indah telah lama bertransformasi menjadi kawasan hunian dan komersial elite yang diburu banyak investor. Kelasnya bisa disejajarkan dengan kawasan lainnya di selatan Jakarta, seperti Kebayoran Baru.Hal itu terindikasi dari nilai lahan dan propertinya. Menurut Vice President Director PT Metropolitan Kentjana Tbk., Jeffri S Tanudjaja, harga lahan area perumahan di pasar sekunder telah menembus angka Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per meter persegi. Sementara itu, harga lahan area perumahan dengan pemandangan lapangan golf berada pada kisaran lebih tinggi, yakni Rp 80 juta per meter persegi. "Tingginya harga lahan tersebut karena pasokan sudah sangat terbatas. Kalau pun ada, pemilik enggan melepasnya. Mereka memilih untuk mempertahankannya, karena memiliki lahan dan properti di sini sangat bagus untuk investasi dan juga gengsi," tutur Jeffri kepada Kompas.com, Rabu (11/6/2014). Jeffri menambahkan, selain terbatasnya pasokan, faktor lain yang ikut memicu meroketnya harga lahan adalah aktivitas pembangunan properti komersial dan juga fasilitas pendukung lainnya. Hal itu menjadikan kawasan Pondok Indah sebagai pusat pertumbuhan bisnis baru. Saat ini tengah dibangun Hotel InterContinental dan apartemen servis, dan apartemen Pondok Indah Residence di dalam area pengembangan CBD Pondok Indah seluas 40 hektar. Bahkan, tahun depan, rencananya ...

Orang Indonesia Mulai Kena Demam Rumah Murah Detroit

October 05, 2013  |   Artikel Info   |     |   0 Comment

Orang Indonesia Mulai Kena Demam Rumah Murah Detroit

Suhendra - detikfinance Kamis, 03/10/2013 07:06 WIB Jakarta - Mendung tipis pagi hari di kawasan Jl Prof. Dr Satrio, Kuningan Jakarta, Sabtu pekan lalu, bukan halangan bagi belasan orang untuk berkumpul di AXA Tower. Sekitar pukul 10.00 WIB satu per satu mereka memasuki ruangan mungil di salah satu sisi pojok pusat pelatihan Multimatics di lantai 37.Sekilas, dari luar tak ada yang khusus dari ruangan itu. Di dekat pintu berwarna coklat hanya tertulis property session dan seorang wanita penjaga daftar buka tamu.Belasan orang tersebut akan mengikuti presentasi soal investasi properti. Di dalam ruangan, ada sosok wanita muda berdiri di depan, terlihat bersemangat menyampaikan presentasinya.Adalah Angie Fong, Managing Director MIDAS Development (Asia) Pte Ltd, merupakan perusahaan pengembang properti asal Singapura. Angie sengaja datang jauh-jauh dari Singapura ke Jakarta untuk menyampaikan peluang properti di Detroit, AS.Siapa yang tak kenal dengan kota ini? Detroit, kota industri otomotif yang sempat menjadi 'kota hantu' karena ditinggalkan warganya karena runtuhnya industri otomotif AS akibat krisis 2008 silam. Angie Fong dan Suaminya Fabian Tan mencoba memulai investasi di Detroit 3 tahun lalu, dengan memborong rumah-rumah murah dan merenovasinya, menyewakannya bahkan menjualnya sehingga mereka maraup keuntungan yang tak sedikit. Angie berkeliling ke beberapa negara di Asia seperti China, Hong Kong, Singapura, Malaysia, ...

Bantuan Rp 4 Juta/Rumah untuk Pengembang Hunian Subsidi Rawan ‘Ditilep’

October 05, 2013  |   Artikel Info   |     |   0 Comment

Bantuan Rp 4 Juta/Rumah untuk Pengembang Hunian Subsidi Rawan ‘Ditilep’

Suhendra - detikfinance Kamis, 26/09/2013 16:42 WIB   Jakarta - Bantuan dana PSU (Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum) yang dikucurkan oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) untuk pengembang perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) rentan terhadap penyelewengan dan tidak sesuai dengan tujuan. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda seperti dikutip dari situs IPW, Kamis (26/9/2013) Ali menuturkan dana bantuan tersebut seharusnya dapat menjadi stimulus bagi pengembang rumah subsidi untuk mau membangun rumah MBR sekaligus menekan harga rumah yang ada. Sehingga harga rumah seharusnya dapat lebih rendah karena biaya pembangunan prasarana dan utilitas yang ada mendapatkan bantuan dana PSU dari pemerintah. "Namun nyatanya hal tersebut jauh dari tujuan dilakukannya bantuan dana PSU. Harga rumah tak kunjung lebih rendah," ungkap Ali. Menurut Ali, kenyataanya di lapangan, dana PSU yang seharusnya dapat menekan harga rumah malah seakan-akan dijadikan dana penerimaan oleh pengembang nakal dengan mengatasnamakan pengembang MBR. "Bayangkan pengembang memperoleh bantuan dana PSU Rp 4 juta untuk rumah subsidi FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) yang dibangunnya. Dana PSU bertambah dari tahun ke tahun dan telah ratusan miliar rupiah dana PSU yang dicairkan menjadi salah sasaran," ungkap Ali, Ali mengungkapkan pengucuran dana PSU dengan sistem reimburse kepada Kemenpera pun luput dari pengawasan. Ia menuding Kemenpera tidak melakukan fungsi pengawasan untuk melihat ...

Tangerang Dikuasai Pengembang Besar!

October 05, 2013  |   Artikel Info   |     |   0 Comment

Tangerang Dikuasai Pengembang Besar!

Penulis : Tabita Diela | Sabtu, 5 Oktober 2013 | 21:28 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Berbicara mengenai kota-kota satelit di sekeliling DKI Jakarta, kita akan menemukan garis merah yang sama. Kerumitan di tiap-tiap kota, yang disebabkan oleh munculnya kawasan kumuh, kemacetan, dan kurang tersedianya infrastruktur.Sebenarnya, kerumitan-kerumitan itu bisa dibenahi satu per satu. Pemimpin di area tersebut hanya perlu keberanian dan strategi untuk melakukannya, tidak terkecuali pada Kota Tangerang. Memang, hal ini jauh lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan. Menurut pengamat dan peneliti perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, Kota Tangerang sebetulnya bisa mengurai kerumitan di kota tersebut dengan membangun rumah susun (rusun) murah. Rusun  murah ini bisa menampung para pekerja pendatang yang mendulang rezeki di kawasan tersebut. "Bagaimana sih walikotanya?" tanya Yayat sembari menghela napas kepada Kompas.com, Sabtu (5/10/2013). Sumber : www.kompas.com"Harusnya dia (walikota) merangkul pengembang besar, menjaga keharmonisan, sinergisitas untuk bangun rumah bagi penduduk yang tidak punya rumah seperti para buruh. Ini perlu agar bisa mengurangi kawasan kumuh. Kawasan kumuh berkurang, macet berkurang, kawasan banjir berkurang. Setelah itu, bantu dengan angkutan umum yang baik. Buruh bisa menggunakannya untuk mobilitas bekerja. Sehari-hari, beban dari (lalu-lintas) pabrik bisa berkurang," tambah Yayat. Yayat mengakui, tidak mudah membuat rusun di Kota Tangerang. Menurutnya, Kawasan Tangerang saat ini masih dimiliki ...

BI Yakin Aturan Uang Muka KPR Tekan Spekulasi

October 04, 2013  |   Artikel Info   |     |   0 Comment

BI Yakin Aturan Uang Muka KPR Tekan Spekulasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) meyakini bahwa aturan uang muka atau loan to value (LTV) kredit pemilikan rumah (KPR) akan efektif menekan spekulasi. Dalam aturan yang resmi berlaku hari ini (30/9), debitur wajib melaporkan seluruh fasilitas kredit konsumsi yang terkait pemilikan properti dan beragunan properti. Kredit hanya boleh untuk fasiltias pertama/rumah pertama. Bank pun hanya boleh memberikan KPR untuk rumah inden jika KPR tersebut adalah rumah pertama. "Kita lihat dulu. Kalau aturan dilaksanakan dengan baik oleh perbankan, bisa efektif," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Johansyah, Senin (30/9). Difi mengatakan aturan tersebut akan efektif meminimalisir resiko spekulasi yang menyebabkan harga rumah merangkak naik. Fitch Ratings pernah menyebutkan bahwa properti di Indonesia masih menjanjikan kendati LTV dinaikan. Difi menekankan bahwa BI tidak menghambat industri properti, tetapi BI mengendalikan kredit ke KPR. "Kalau beli sndiri tidak masalah. Yang kita khawatirkan yang dibiayai perbankan. Jika suatu saat ada masalah, yang rugi nasabah," ujar Difi. Sementara itu, mengenai protes dari kalangan pengembang mengenai aturan tersebut, BI mengatakan tidak akan menindaklanjutinya. Persatuan Realestat Indonesia (REI) pernah menyatakan bahwa kebijakan larangan inden untuk KPR kedua membahayakan dan dapat mematikan usaha para pengembang. "Kita demi kepentingan nasabah. Kita yang penting properti tumbuh sehat," tegas Difi.   Reporter : Satya Festiani Redaktur ...